Archive for Ilmu Nahwu dan Sharaf

pengertian kalimat isim

A. Pengertian kalimah isim

كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِيْ نَفْسِهَا وَلَمْ تُقْتَرَنْ بِزَمَانٍ وَضْعًا

kalimat (kata) yang menunjukkan kepada makna mandiri dan tidak disertai dengan pengertian zaman (keterangan waktu)”.

Dengan kata lain kalimat (kata) isim adalah kata benda. Contoh:

زَيْذٌ   = Zaid (nama orang)

كِتَابٌ      = kitab (nama benda)

صَالِحٌ  = baik/ soleh (kata sifat)

أَنَا = saya / aku (kata ganti)

B. Karakteristik kalimah isim

فَالإِْسْمُ يُعْرَفُ بالْخَفْضِ وَالتَّنْوِيْنِ وَدُخُولِ اْلأَلِفِ وَاْللاَّمِ وَحُرُوْفِ الْخَفْضِ

kalimat isim itu dapat diketahui dengan melalui khafadh (huruf akhirnya di-jarr-kan), tanwin, kemasukan alif-lam, dan kemasukan huruf khafadh (huruf jar)”. (Al-Jurumiyah)

فَالإِسْمُ بِالتَّنْوِيْنِ وَالْخَفْضِ عُرِفْ ﴿﴾ وَحُرُوْفُ الْخَفْضِ وَبِلاَمِ وَأَلِفِ

tanda kalimat itu dapat diketahui dengan melalui tanwin, khafadh (jar), dan dengan melalui lam-alif”. (nazhim amriti)

بِالْجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدا وَأَلْ ﴿﴾ وَمُسْنَدٍ لِلإِسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

isim bisa dibedakan, apabila kepadanya masuk al-jarru, tanwin, huruf nida’ dan musnad (disandarkan)”. (nazhim Ibnu Malik)

Penjelasan

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik kalimat isim itu antara lain ialah:

1.      Huruf akhirnya di-jar-kan

Kalimat isim dibaca jar (di-jar-kan huruf akhirnya) bisa dikarenakan oleh beberapa sebab, antara lain:

a. Kemasukan huruf khafadh (jar), yaitu:

Ø Huruf  مِنْ (dari) dan إِلَى (ke), contoh: سِرْتُ مِنَ الْمِصْرِ إِلَى الْمَكَّةِ  (aku telah berjalan dari Mesir ke Mekkah)

Ø Huruf عَنْ (dari), contoh: سَأَلْتُ عَنْ زَيْذٍ  (aku telah menanyakan tentang keadaan zaid)

Ø Huruf عَلَى (kepada/ atas), contoh: رَكِبْتُ عَلَى الْفِرَسِ  (aku telah menunggang (di atas) kuda)

Ø Huruf فِيْ (pada/dalam), contoh: زَيْذٌ فِيْ الدَّرِ (zaid berada di dalam rumah)

Ø Huruf رُبَّ (sedikit sekali/banyak sekali), contoh: رُبَّ رَجُلٍ صَلِحٍ فِيْ الْمَسْجِدِ  (sedikit sekali atau banyak sekali laki-laki saleh di masjid)

Ø Huruf بِ (dengan), contoh: مَرَرْتُ بِزَيْذٍ (saya bertemu dengan zaid)

Ø Huruf كَ (seperti), contoh: أَحْمَد كَالْبَدْرِ (ahmad seperti bulan)

Ø Huruf لِ (untuk/milik), contoh: أَلْمَالُ لإِبْرَاهِيْمِ (harta milik Ibrahim)

Ø Huruf qasam (sumpah) yaitu huruf ,و ب ت contoh: وَاللّٰهِ بِاللّٰهِ تاَللّٰهِ  (demi Allah)

b. Sebab Idhafat

Yang dimaksud idhafat adalah:

إِمْتِزَاجُ إِسْمَيْنِ عَلَى وَجْهٍ يُفِيْدُ تَعْرِيْفًا أَوْتَخْصِيْصًا

“menggabungkan dua isim dengan cara memberikan faedah ke-ma’rifat-an atau kekhususan”. (disebut juga kata majemuk)

Faedah idhafat adalah me-ma’rifat-kan bila mana isim itu di-idhafat-kan kepada isim ma’rifat, tetapi apabila isim itu di-idhafat-kan kepada isim nakirah, maka namanya men-takhsis-kan (tidak bersifat umum atau tertentu).

Macam-macam idhafat:

Ø Idhafat lafdiyah yaitu mudhaf-nya yang terdiri dari isim sifat (isim fa’il/ isim maf’ul) dan mudhaf ilaih-nya terdiri dari ma’mul-nya. Idhafat ini tidak mempunyai faidah/ pengaruh apa-apa, tidak dapat menjadikan ma’rifat/ takhsis, contoh: ضَارِبُ زَيْذٍ (orang yang memukul Zaid) dan مَضْرُوْبُ الْعَبْدُ  (yang dipukul pembantu)

Ø Idhafat maknawiyah yaitu mudhaf-nya tidak terdiri dari isim sifat, ini akan berpengaruh/ berfaidah:

-    Kalau mudhaf ilaih-nya isim ma’rifat maka yang menjadi mudhaf-nya akan mengikuti ma’rifat, contoh: غُلاَمُ زَيْذٍ حَاضِرٌ (orang zaid datang)

-    Kalau mudhaf ilaih-nya isim nakirah maka yang menjadi mudhaf-nya akan mengikuti nakirah, contoh:   غُلاَمُ رَجُلٍ حَاضِرٌ (anak lelaki datang)

وَأَمَّا يُحْفَضُ بِالإِضَافَةِ نَحْوُ قَوْلِكَ غُلاَمُ زَيْذٍ وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ مَايُقَدَّرُ بِاللاَّمِ نَحْوُ غُلاَمُ زَيْذٍ وَمَايُقَدَّرُ بِمِنْ نَحْوُ ثَوْبُ خُزٍّ وَبَابُ سَاجٍ وَخَاتِمُ حَدِيْدٍ وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ

وَاخْفِضْ بِهِ اسْمٌ الَّذِيْ لَهُ تَلاَ ﴿﴾ كَقَاتِلاَ غُلاَمِ زَيْذٍ قُتِلاَ

وَهُوَ عَلَی تَقْدِيْرِ فِيْ أَوْلاَمِ ﴿﴾ أَوْ مِنْ كَمكْرُ اللَّيْلٍ أَوْغُلاَمِ

a. Pengertian kalam

Kalam menurut istilah ahli nahwu mempunyai beberapa pengertian, diantaranya:

أَلْكَلَمُ هُوَ اللَّفْظُ المُرَكَّبُ الْمُفِيْدُ بِالوَضْعِ

“kalam ialah lafazh yang tersusun dan bermakna lengkap” (al-jurumiyah)

كَلاَمُهُمْ لَفْظٌ مُفِيْدٌ مُسْنَدٌ ﴿﴾ وَكِلْمَةٌ اللَّفْظُ الْمُفيْدُ الْمُفْرَدُ

kalam ialah suatu lafazh yang digunakan untuk menujukkan makna yang bersifat musnad (susunan), sedangkan kalimah adalah suatu lafazh yang digunakan untuk menunjukan makna yang bersifat mufrad (tunggal)”. (nazhim amriti)

Jadi dapat disimpulkan, bahwa kalam ialah lafazh yang tersusun (dari dua kalimat atau lebih) dan mempunyai makna yang lengkap (disengaja dalam pengucapannya). Sedangkan kalimah adalah suatu lafazh yang digunakan untuk menunjukkan makna yang bersifat mufrad (tunggal), ia merupakan bagian dari kalam.

b. Syarat-syarat kalam

Kalam menurut istilah ahli nahwu, harus memenuhi empat syarat, yaitu:

1.      Berupa lafazh, yaitu:

اللَّفْظُ هُوَ الصَّوتُ الْمُشْتَمِلُ عَلَى بَعْضِ الْحُرُوْفِ الْهِجَائِيَّةِ

lafadzh ialah ucapan (suara) yang mengandung sebagian huruf hijaiyah”

Contoh:

كِتَابٌ         (kitab)

مَجْلِسٌ       (majelis atau tempat pertemuan)

قَلَمٌ             (pena)

مَسْجِدٌ        (masjid)

Sedangkan suara ayam, bedug, kaleng, petir, mesin dan sebagainya tidak bisa dinamakan lafazh.

2.      Harus murakkab (tersusun), yaitu:

الْمُرَكَّبُ هُوَمَا تُرُكِّبَ مِنْ كَلِمَتَيْنِ فَأَكْثَرَ

“ucapan yang tersusun dari dua kalimat atau lebih

Contoh:

زَيْدٌ قَائِمٌ      zaid berdiri))

أَللّٰهُ أَكْبَرُ     Allah) maha besar)

سُبْحَانَ اللّٰهِ  (maha suci Allah)

Jadi kalau satu kalimat saja, bukan termasuk murakkab. Yang dimaksud dengan”kalimat” disini adalah sepatah kata.

3.      Harus berfaidah (mufid).

الْمُفِيْدُ هُوَ مَا أَفَادَ فَائِدَةً يَحْسُنُ السُّكُوْتُ مِنَ الْمُتَكَلِّمٍ وَالسّامِعِ ِعَليْهَا

ungkapan yang berfaidah yang memberikan pemahaman sehingga pendengarnya merasa puas”.

Contoh:

زَيْدٌ قَائِمٌ   (zaid berdiri)

كَيْفَ حَالُ زَيْدٌ؟  pertanyaan dari njawaba ebagais ,jaas قَائِمٌ atau

Jadi, perkataan yang janggal didengar karena tidak dapat dipahami maksudnya, tidak termasuk mufid. Missal:

(apabila ayahku datang) إِنْ جَاءَ أَبِيْ atau (apabila zaid berdiri) إِنْ قَامَ زَيْدٌ

.jawaban atau lainnya kalimat dengan idilengkap anpat

Kalau perkataan itu ingin sempurna, maka harus ada tambahannya, seperti:

إِنْ قَامَ زَيْدٌ قُمْتُ       (berdiri pun kua,berdiri zaid apabila)

إِنْ جَاءَ أَبِيْ فَأُكْرِمْهُ  (dia kuhormati akan maka,apabila ayahku datang)

4.      Wadha’, yaitu:

جَعْلُ اللَّفْظِ دَلِيْلاً عَلَى مَعْنًى

“menjadikan lafazh agar menunjukkan suatu pengertian (makna)”. Dan pembicaraannya disengaja serta mengeluarkan bahasa arab, sebab ilmu nahwu ini membahas kaidah bahasa arab,. Jadi pembicaraan orang mengigau walaupun bahasa arab atau bukan, tidaklah termasuk wadha’ menurut ahli nahwu.

c. Pembagian kalam.

فَأَقْسَمُهُ  ثَلاَثَةٌ إِسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنَى

kalam itu terbagi menjadi tiga, yaitu: isim, fi’il, dan huruf yang memiliki makna”. (al-jurumiyah)

لأِسْمٍ وَفِعْلٍ ثُمَ حَرْفٍ تَنْقَسِمْ  ﴿﴾ وَهَذِهِ ثَلاَثُهَا هِيَ الْكَلِمْ

kalimah itu terbagi menjadi isim, fi’il dan huruf, ketiga-tiganya ini disebut kalim”. (nazhim amriti).

كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ ﴿﴾ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ لْكَلِمْ

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ والْقَوْلُ عَمّْ ﴿﴾ وَكِلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤَمّْ

kalam kami (maksudnya: yang dinamakan al-kalamu) adalah lafazh yang memberikan faidah, seperti lafazh إِسْتَقِمْ (berdirilah engkau!!). dan adapun kalimat-kalimat (al-kalimu) itu ialah: Isim (nama benda), fi’il (kata kerja), dan juag huruf”.

“singular (mufrod) perkataan al-kalimu itu ialah: al-kalimatu. Sedangkan al-qaulu (perkataan, ucapan) itu umum. Dan kadang-kadang dimaksud dengan kalimat itu ialah kalam”. (nazhim Alfiyah ibn Malik)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.